Kancing mempunyai model dan ukuran yang bervariasi. Selain berfungsi sebagai penutup belahan, kancing juga bisa berfungsi sebagai hiasan busana. Ukuran dan model kancing yang beraneka ragam memungkinkan kita dapat memilih kancing yang sesuai dengan pakaian yang dibuat.

Kancing ada beberapa macam, antara lain :

1) Kancing jepret. Kancing ini berukuran agak kecil yang terdiri atas dua bagian. Satu bagian mempunyai tombol dan tipis dan yang satu lagi mempunyai lobang tetapi tidak tembus sampai kebelakangnya. Kancing jenis ini ada yang terbuat dari bahan besi atau stainlesteel dan ada juga yang terbuat dari plastik. Kualitas dari kancing inipun beragam. Untuk membuat busana yang berkualitas baik hendaklah dipilih kancing jepret yang berkualitas bagus. Kancing jepret yang berkualitas rendah adakalanya berkarat jika sudah dipakai dalam waktu yang lama.

2) Kancing bermata. Kancing ini sering digunakan untuk pakaian laki-laki dan sering juga disebut kancing kemeja.
Bentuk kancing ini bulat dan memiliki lobang tempat memasukkan benang. Ukuran kancing inipun beragam, mulai dari yang kecil, menengah dan besar.

3) Kancing berkaki, biasanya digunakan untuk pakaian wanita, baik sebagai hiasan maupun sebagai penutup belahan. Kancing ini banyak jenisnya, ada yang terbuat dari logam dan ada juga yang dibuat dari plastik.
Bentuknya mempunyai kaki atau tempat memasukkan benang pada bagian bawah kancing. Warna dan modelnyapun beragam, berubah sejalan dengan perkembangan mode.

4) Hak. Hak terdiri atas dua bagian yaitu bagian penyangkut dan bagian penahan sangkutan. Hak ini ada dua macam.
Ada hak yang ukurannya kecil dan ada yang ukurannya agak besar. Hak yang kecil sering juga disebut kancing kait. Biasanya digunakan sebagai pengancing bra, longtorso dan untuk penahan belahan yang dipasangkan pada akhir pemasangan zipper. Hak yang ukuran besar biasanya dipasangkan pada ban pinggang rok atau celana. Hal ini ada yang pemasangannya dilakukan dengan cara dijahitkan dan ada juga dengan jalan ditekan. Hak yang ditekan ini banyak ditemui pada ban pinggang celana pria.

. tulisan ini di sponsori oleh okrek.com

A.    Pengertian
1.      kesempatan kerja adalah suatu keadaan yang menggambarkan tersedianya lapangan kerja untuk diisi oleh pencari kerja.
2.      Tenaga kerja adalah masyarakat yang benar-benar terlibat dalam proses produksi
3.      Angkatan kerja adalah jumla penduduk usia kerja yang mencakup penduduk yang sudah bekerja dan yang mencari pekerjaan.
4.      Usia kerja adalah masyarakat yang berumur 10-65 tahun. Usia kerja bisa mengalami pergeseran sesuai dengan perkembangan jaman, misalnya dengan diberlakukannya wajib belajar 9 tahun maka usia sekolah sampai tingkat sltp hingga usia kerja akan bergeser menjadi 15-64 tahun.
5.      Pasar tenaga kerja merupakan pasar faktor produksi (pasar absolute). Pasar tenaga kerja merupakan keseleruhuan aktivitas yang mempertemukan penawaran tenaga kerja (pencari kerja) dan permintaan tenaga kerja (lowongan kerja). Di pasar inilah  para pencari kerja dan p[eminta kerja dapat melakukan transaksi. Pasar tenaga kerja bisa dilakukan oleh pihak pemerintah melalui Departemen Tenaga Kerja dan oleh pihak swasta seperti biro tenaga kerja.





G.    Macam-macam Pengangguran dilihat dari Jam Kerja
1.      Penganggutan Terbuka (Open Unemployment)
Pengangguran terbuka adalah tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan.
2.      Setengah Menganggur (Under Unemployment)
Setengah menganggur adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena ketiadaan lapangan kerja atau pekerjaan, atau pekerja yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu.
3.      Pengangguran Terselubung (Disguised Unemployment)
Pengangguran terselubung adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena tidak memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya.
H.    Pengangguran Menurut Keynes
1.      Pengangguran yang disengaja (Voluntary Unemployment)
Pengangguran yang disengaja adalah pengangguran terjadi karena ada pekerjaan yang ditawarkan tetapi orang yang menganggur tidak mau menerima pekerjaan tersebut dengan upah yang berlaku.
2.      Pengangguran yang tidak disengaja (Involuntary Unemployment)
Pengangguran yang terjadi apabila seseorang bersedia menerima pekerjaan dengan upah yang berlaku tetapi pekerjaannya tidak ada.

1.      Mendorong majunya pendidikan
2.      Meningkatkan latihan kerja untuk memenuhi kebutuhan ketrampilan seperti tuntutan industri modern
3.      Meningkatkan dan mendorong kewiraswastaan
4.      Mendorong terbukanya kesempatan usaha-usaha informal
5.      Meningkatkan usaha transmigasi
6.      Meningkatkan pembangunan dengan sistem padat karya
7.      Mengintensifkan program keluarga berencana
8.      Membuka kesempatan bekerja ke luar negeri

Bentuk kaftan merupakan perkembangan dari bentuk dasar kutang atau tunika yang dipotong bagian tengah muka sehingga terdapat belahan pada bagian depan pakaian.
Orang-orang Babylonia telah lama menggunakanya sebagai penutup badan bagian atas. Bentuk kaftan yang asli masih dipakai oleh petani di Mesir. Di Indonesia dikenal dengan nama kebaya, di Jepang dikenal dengan kimono dan di Negara-negara Timur Tengah dikenal dengan jubah. Busana kaftan berbentuk baju panjang yang longgar, sisi lurus, berlengan panjang dan ada belahan pada tengah muka.
Dengan kata lain bentuk kaftan memiliki ciri khas, mempunyai belahan disepanjang tengah muka dan memakai lengan.
Belahan ini ada kalanya disemat dengan peniti dan ada juga yang dibiarkan lepas (tidak disemat).


Delapan Prinsip Manajemen Mutu diidentifikasi dapat digunakan oleh Top Management untuk memimpin organisasi dalam hal memperbaiki kinerja. Prinsip Manajemen Mutu:
  2. Kepemimpinan
  3. Keterlibatan Karyawan
  4. Pendekatan Proses
  5. Pendekatan Sistem ke Manajemen
  6. Perbaikan Terus Menerus
  7. Pendekatan Faktual untuk Mengambil Keputusan
  8. Hubungan Saling Menguntungkan dengan Pemasok


Biasanya Gamis itu lebih longgar lagi daripada Abaya.
yang paling pas bentuk tubuh itu biasanya kita namai siftdress, trus lebih longgar tapi masih pas tubuh itu biasa kita sebut abaya, dan gamis lebih longgar lagi, sehingga tidak tampak bentuk tubuhnya.

Siftdress - Abaya - Gamis.


Bentuk pakaian bungkus merupakan pakaian yang berbentuk segi empat panjang yang dipakai dengan cara dililitkan atau dibungkus ke badan mulai dari dada, atau dari pinggang sampai panjang yang diinginkan seperti celemek panggul. Pakaian bungkus ini tidak dijahit, walaupun pada saat pakaian bungkus ini muncul jarum jahit sudah ada. Pemakaian pakaian bungkus ini dengan cara dililitkan ke tubuh seperti yang ada di India yang dinamakan sari, toga dan palla di Roma, chiton dan peplos di zaman Yunani kuno, kain panjang dan selendang di Indonesia.
Pada perkembangannya, pakaian bungkus berbeda-beda dalam cara pemakaiannya untuk tiap daerah, sehingga muncul pakaian bungkus yang namanya berbeda-beda diantaranya :
a. Himation, yaitu bentuk busana bungkus yang biasa di pakai oleh ahli filosof atau orang terkemuka di Yunani Kuno. Himation ini panjangnya 12 atau 15 kaki yang terbuat dari bahan wol atau lenan putih yang seluruh bidangnya di sulam. Busana ini dapat dipakai diatas chiton atau dengan mantel. Bentuk busana yang hampir menyerupai himation ini yaitu pallium yang biasa dipakai diatas toga oleh kaum pria di Roma pada abad kedua.
b. Chlamys, yaitu busana yang menyerupai himation, yang berbentuk longgar. Biasanya dipakai oleh kaum pria Yunani Kuno.
c. Mantel/shawl, yaitu busana yang berbentuk segi empat panjang yang dalam pemakaiannya disampirkan pada satu bahu atau kedua bahu. Pada bagian dada diberi peniti sehingga muncul lipit-lipit dan pada kedua ujungnya diberi jumbai-jumbai.
d. Toga, merupakan bentuk pakaian resmi yang dipakai sebagai tanda kehormatan dizaman republik dan kerajaan di Roma. Ada beberapa jenis toga diantaranya yaitu, toga palla yaitu toga yang dipakai saat berkabung dan toga trabea yang dibuat menyerupai cape bayi.
e. Palla, yaitu busana wanita Roma dizaman republik dan kerajaan, dipakai di atas tunika atau stola. Pemakaiannya hampir sama dengan shawl yang disemat dengan peniti. Warna palla pada umumnya warna biru, hijau dan warna keemasan.
f. Paludamentum, sagum dan abolla, yaitu sejenis pakaian jas militer dizaman prasejarah.
g. Chiton, yaitu busana pria Yunani Kuno yang mirip dengan tunik di Asia. Bahan chiton biasanya terbuat dari bahan wol, lenan dan rami yang diberi sulaman dengan benang berwarna dan benang emas sebagai pengaruh tenunan Persia.
h. Peplos dan haenos, yaitu busana wanita Yunani Kuno yang bentuk dasarnya sama dengan chiton, ada yang dibuat panjang dan ada yang pendek. Pada bagian bahu ada lipit-lipit yang ditahan dengan peniti dan ada kalanya pada pinggang juga dibuat  lipit-lipit sehingga terlihat seperti blus. Peplos dari Athena memakai ikat pinggang yang diikat di atas lipit-lipit di pinggang.
i. Cape atau cope, yaitu busana paling luar pada pakaian pria di Byzantium yang berbentuk mantel yang diikat pada bahu atau leher dan diberi hiasan bros.

Alhamdulillah kiriman sudah datang terima kasih ya mbak, Abaya Songketnya bagus sekali.
Suryani, Pontianak (08186405***)


Mbak bjnya udh smpai,mksh.
Sita (085281120***)



Mbak Bajunya sudah datang, bajunya keren thanks ya
Erna Rismawati - Depok:

Afandi: Barang pesanan Mbak Rahma 



           sudah dikirim menggunakan Unicar
           dengan nomor A-063***

Khairunnisa: alhamdulillah, berarti kpn kira2 bs saya terima ?

Afandi: semoga kurirnya tidak ada halangan dalam perjalanan

Khairunnisa: alhamdulillah, sdh kami terima order nyaa...trimakasih.






Widi, DepoK, 081210333*** :
M bj'a dah smp.....Mksh ya.....BAGUS bgt & jaitan'a jg Pas.....





ely wahyuni: Assalamualaikum Wr.Wb. Terima kasih Paket jilbabnya sudah sy terima.
Afandi -: Waalaikumsalam wrwb, alhamdulillah

.

a. Pola Bagian Muka
Sebelum membuat pola badan bagian bawah / pola rok siapkan bahan blaco, buat garis tengah muka dari tepi kain 4 s.d 5 cm, lipatkan agar tengah belakang jadi tebal. Sebelumnya dressform diukur dari pinggang sampai panjang rok.
Letakkan garis tengah muka blaco pada tengah muka dressform / boneka jahit dari pinggang ke bawah, ratakan dan semat. Letakkan garis panggul blaco pada garis panggul boneka jahit, ratakan, semat pada garis panggul.
Tarik tegak lurus bahan blaco bagian panggul ke atas sampai garis pinggang, ratakan sisi panggul, semat pada garis pinggang.
Selisih garis panggul dan pinggang di buat lipit kup.
Letak lipit kup 1/10 lingkar pinggang ditambah 1 cm dari tengah muka. Lipit kup miring ke arah garis panggul. Ratakan bagian pinggang. Buat guntingan-guntingan kecil sekitar pinggang, untuk memberi bentuk yang bagus pada pinggang.
Rapikan bagian sisi dan bawah rok. Tambahkan kampuh untuk sisi rok dan pinggang selebar 2 cm. Tambahkan kelim pada bagian bawah rok 3 s.d 4 cm. Pindahkan garis-garis pola boneka, jahit pada blaco, tandai bagian lipit kup.

b. Pola Bagian Belakang.
Letakkan garis tengah belakang blaco pada tengah belakang dressform / boneka jahit. Letakkan garis panggul blaco pada garis panggul boneka jahit. Ratakan dari tengah muka pinggang sampai panjang rok dan di semat. Ratakan garis panggul ke samping pas garis pola, semat. Tarik tegak lurus bahan blaco garis panggul ke pinggang, ratakan, semat. Selisih garis panggul dari pinggang, dibuat lipit kup, letak lipit kup 1/10 lingkar pnggng dikurang 1 cm dari tengah belakang, lipit kup mengarah ke garis panggul.
Ratakan bagian pinggang.
Buat guntingan-guntingan kecil pada garis pinggang untuk memberi bentuk yang bagus pada pinggang. Rapikan bagian sisi dan bawah rok. Tambahkan kampuh pada bagian sisi dan pinggang masing-masing 2 cm, tambahkan kelim 3 s.d 4 cm pada bagian bawah rok. Pindahkan / tandai garis-garis pola boneka jahit pada bahan blaco, dengan pensil lunak, posisi garis tengah belakang dari blus / badan, rok, dan kerah, posisi garis bahu, posisi kampuh sisi, semua lipatan, kelim, lipatan lipit kup. Posisi garis dada, posisi garis punggung, poisi leher, posisi garis pinggang, posisi garis panggul, pola bagian muka ditandai dengan satu titik, pola bagian belakang ditandai dengan dua titik.

Dalam berbusana kita perlu memperhatikan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, seperti norma agama, norma susila, norma sopan santun dan sebagainya, dan juga memahami tentang kondisi lingkungan, budaya dan waktu pemakaian. Dengan demikian baik jenis, model, warna atau corak busana perlu disesuaikan dengan hal tersebut di atas. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, secara garis besar busana dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :

1. Busana Dalam
Busana dalam dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu :
a. Busana yang langsung menutup kulit, seperti : BH/Kutang, celana dalam, singlet, rok dalam, bebe dalam, corset, longtorso. Busana ini berfungsi untuk melindungi bagian-bagian tubuh tertentu, dan membantu membentuk/ memperindah bentuk tubuh serta dapat menutupi kekurangan-kekurangan tubuh, dan juga menjadi fundamen pakaian luar.
Jenis busana ini tidak cocok dipakai ke luar kamar atau keluar rumah tanpa baju luar.
b. Busana yang tidak langsung menutupi kulit, yang temasuk kelompok ini adalah busana rumah, seperti : daster, house coat, house dress, dan busana kerja di dapur seperti :
celemek dan kerpusnya. Busana kerja perawat dan dokter, seperti celemek perawat dan snal jas dokter. Busana tidur wanita, seperti baby doll, nahyapon dan busana tidur pria, antara lain, piyama dan jas kamar. Jenis pakaian tersebut di atas tidak etis jika dipakai ketika menerima tamu.

2. Busana Luar
Busana luar ialah busana yang dipakai di atas busana dalam.
Pemakaian busana luar disesuaikan pula dengan kesempatanya, antara lain busana untuk kesempatan sekolah, busana untuk bekerja, busana untuk kepesta, busana untuk olah raga, busana untuk santai dan lain sebagainya.